| Ditemukan 51 spesies dibawah kategori : Tumbuhan obat | |
|
 |
Aerva sanguinolenta (Linn.) Blumae
Inggris :
Indonesia : ki sambang
herba bertahunan, tumbuh tegak atau merambat ke atas, tinggi lebuh dari 200 cm, kadang kala bercabang, ruas-ruas kebanyakan lebih panjang dari 3 cm; susunan daun :daun berselang-seling (alternate) atau berhadap-hadapan (opposite),bentuk daun ovate-elliptical (bulat telur dengan dasar lebar-bulat telur dengan ujung mengecil ), bangun memanjang atau bangun lanset, dengan ukuran 1.5-7.5 cm x 0.5-4.5 cm; panjang bulir lebih dari 5 cm, sebagian berada di dalam ketiak daun yang normal, sebagian ketiak dari daun gagang (bract) dan sering tersusun menjadi rangkaian bunga yang longgar;panjang daun tenda bunga (tepala) 2-2.5 mm, kepala putik 1, seluruh atau 2-cuping yang tidak jelas bulir buah padat dan tebal, tidak mudah dirusak. Aerva sanguinolenta biasanya berada di lahan yang telah ditinggalkanis locally common in abandoned fields, semak belukar, pagar tanaman, di Jawa berada di ketinggian 200 m dpl, namun di Indo-Cina di atas 2000 m. |
Kategori : Tumbuhan obat
Sinonim : Achyranthes sanguinolenta L. (1762), Aerva scandens (Roxb.) Wallich ex Moq. (1849), Aerva timorensis Moq. (1849).
|
 |
Aglaia odorata Lour.
Inggris :
Indonesia : pacar cina
Tanaman perdu atau pohon kecil yang tingginya lebih dari 10 m, daun : 3-5(-7), berselang seling, 5-9 pasang dari urat sekunder, licin dan gundul atau kadang-kadang sisik membintang sedikit coklat kekuningan dengan pinggiran berjumbai di bagian bawah.; bunga : 5-merous (5 kelopak), 5 kepala sari , bentuk kepala putik bulat telur atau hampir bulat telur, berabungan membujur dangan 2 cuping rembang kecil, Buah : buah takbengang (buah buni). Aglaia odorata tumbuh menyebar namun biasanya dalam satu tempat dan ditemukan di malai hijau primer dan hutan yang tumbuh kembali setelah bencana, sedang sepanjang pesisir, di atas ketinggian 700 m dpl. |
Kategori : Tumbuhan obat
Sinonim : Aglaia chaudocensis Pierre (1896), Aglaia duperreana Pierre (1896), Aglaia oblanceolata Craib (1926).
|
 |
Allium cepa L.
Inggris : Onion, common onion, shallot onion. Prancis :Echalote, oignon.
Indonesia : bawang merah, bawang beureum, bawang bombay
Tanaman herba dwitahunan, biasanya tumbuh sebagai tanaman semusim dengan tinggi 100 cm; diameter umbi lapis dewasa lebih dari 15 cm; Daun 3 - 8; helaian semi-megalah, pada awalnya padat, selanjutnya menjadi berlubang, berwarna keabu-abuan, kebiru-biruan atau keputih-an berlapis lilin; batang bunga 1 - beberapa, meggalah, sering menggembung di tengah atau bagian yang lebih rendah, berlubang, bunga majemuk dengan bunga yang lebih banyak dari 2000 bunga.; Bunga: daun tenda berwarna putih kehijauan sampai keungu-unguan, kadang-kadang benang sari sedikit melampui daun tenda, tangkai putik lebih rendah dibandingkan benang sari pada antesis.; Buah : diameter 4 - 6 mm, termasuk lebih dari 6 biji; ukuran biji sekitar 3 mm x 2 mm. Pada kelompok bawang biasa umbi lapisnya besar dan tunggal, dan tanaman diperanakan dari biji atau dari pertumbuhan siungan - biji; pada kelompok Agregatum (shallot) umbi lapisnya lebish kecil, beberapa sampai banyak membentuk agregasi kluster, dan tanaman diperanakan secara vegetatif dengan umbi lapis lateral. |
Kategori : Tumbuhan obat
Sinonim :
|
 |
Allium tuberosum Rottler ex Sprengel
Inggris : chives (Inggris).
Indonesia : kucai.
Herba tahunan membentuk rumpun yang rapat, tinggi lebih dari 50 cm; umbi lapis tidak jelas, hampir bulat telur sekitar 2 cm x 1.5 cm; Daun : 4-9 helai, helaian datar di bagian atas, sedikit lunak pada bagian bawah 1 batang bunga mampat, padat, perbungaan terdiri dari banyak bunga, tanpa siungan; bunga dengan daun tenda putih, benang sari dan tangkai putik yang panjangnya sekitar sama dengan daun tenda; Diameter buah 5 - 6 mm, panjang biji 3 - 4 mm. |
Kategori : Tumbuhan obat
Sinonim : Allium uliginosum G. Don (1827), Allium senescens Miq. (1867), Allium odorum auct. non L.
|
 |
Aloe Sp.
Inggris : Aloe
Indonesia : lidah buaya
Kurang lebih perdu sukulen tahunan dengan batang yang sangat pendek dan akar berdaging yang menyerabut. Daun tersusun seperti spiral dalam roset, kadang-kadang berselang seling, memanjang (linear) sampai meruncing pada`kedua ujungnya (lanset), sangat tebal dan berdaging, berupih (berpelepah) di dasar, tepi daun biasanya berombak - bergerigi, rembang berputar, kadang-kadang seluruhnya, permukaan biasanya berputar, mengandung cairan tidak berwarna, kuning, coklat atau abu-abu. Perbungaan pseudo-lateral, sederhana atau bercabang, tandan panjang-slindris, bunga biseksual, protandrius, bergantilan, jumlah tenda bunga 6 biasanya berpautan di dalalm tube, Kadang-kadang 3 di bagian luar bebas, berdaging, apices sub-acute sampai obtuse; benang sari 6, dalam 2 baris dari 3; bakal buah di atas, 3 lokular (rongga), Tangkai putik membenang, lebih panjang dari benang sari, kepala putik kecil. Buah: sebuah kapsul loculicidal, berbiji banyak. Bijinya memanjang dan bulat telur, Abu-abu atau hitam, bersalut biji. |
Kategori : Tumbuhan obat
Sinonim :
|
 |
Alternanthera ficoidea (L.) R. Br.
Inggris :
Indonesia : bayam merah
Herba tahunan dengan tinggi lebih dari 50 cm, tumbuh tegak atau mencondong dan berakar pada bagian bawah, biasanya bercabang dan membentuk berkas padat, batangnya padat, berambut kasar. Daun : bergerigi, lonjong, lonjong bulat telur sampai menyudip (seperti sendok) , ukuran daun 1-6 cm x 0.5-2 cm, meroma halus pada daun muda, namun setelahnya menggundul secara berkala, biasanya berbelang-nelang dengan warna merah kecoklatan, merah, merah muda atau kuning, panjang tangkai 1-4 mm; Pembungaan dengan bongkol (kepala) melekat ; 3 daun tenda di bagian luar dengan 3 barik yang jelas, putih mengkilap atau kekuningan, tangkai sari berkumpul menjadi satu membentuk cangkir kecil; buah tidak diproduksi di daerah Malesian. Di Asia Tenggara hanya var. versicolor (Lem.) Backer (synonyms: Alternanthera amoena Backer & v. Slooten, Alternanthera bettzickiana (Regel) Nicholson, Alternanthera ficoidea (L.) P. Beauv. var. bettzickiana (Nicholson) Backer, Alternanthera manillensis (Walp.) Kanis (1972), Alternanthera tenella Colla var. versicolor (Lem.) Veldk.) yang dikultivasi. Pada kenyataannya taxon ini dianggap sebagai tanaman ladang. walaupun sulit membentuk buah dan diolah sebagai tanaman hias, tanaman ini terkenal sebagai non- a non-persisting escape. |
Kategori : Tumbuhan obat
Sinonim : Gomphrena ficoidea L. (1753), Alternanthera tenella Colla (1828).
|
 |
Alternanthera philoxeroides (Mart.)Griseb.
Inggris : Alligator weed.
Indonesia : tolod
Herba tahunan dengan tinggi lebih dari 1 m, menaik dengan menjalar atau melayang, dasar berakar, bayak percabangan dan membentuk masa yang padat, batang berbuluh di bagian bawah, berambut halus, daun lonjong atau lonjong bulat telur, ukuran 2-8 cm x 0.5-2.5 cm, gundul (permukaan licin) atau berambut getar (cilia), panjang tangkai 3-6 mm; Bongkol bunga bertangkai atau biasanya melekat; daun tenda 1 urat, putih berkilau, tangkai sari berkumpul di dasar membentuk pembuluh yang nyata; Tanaman ini tidak memproduksi buah di daerah Malesia. Alternanthera philoxeroides terdapat secara lokal berkelompok di Jawa, di tempat menggenang atau di tempat yang air dengan aliran kecil di kolam dan selokan. |
Kategori : Tumbuhan obat
Sinonim : Telanthera philoxeroides (Mart.) Moq. (1849).
|
 |
Aralidium pinnatifidum Miq.
Inggris :
Indonesia : medung (umum)
Tanaman diesis kecil, tinggi lebih dari 10 m, jarang yang tingginya sampai 20 m, dengan diameter bulung lebih dari 25 cm, kuncup-kuncup tertutup dalam pangkal daun panjang yang gugur. Daun-daun tersusun sepertin spiral, berkelar menyirip, sering kali sedalam tulang tengah, dengan cuping lonjong - melancip dan melanjut pada tulang tengah, kadang-kadang berbentuk seperti pisau dan bulat telur lebar, c. panjang 30 cm, gundul/licin, panjang tangkai 5-12 cm, berpegangan/menjepit batang, tidak ada penumpu (stipula). Perbungaan: terminal atau kadang-kadang malai aksiler, panjang lebih dari 50 cm, menggantung, banyak bunga. Bunga-bunganya kecil, uniseksual, 5-kelopak, berwarna coklat atau sedikit merah, wangi; gantilan beruas, kelopak dan daun mahkota padat dengan bulu balig halus, daun mahkota menyirap, bunga jantan dengan daun mahkota berkanjang (tahan lama), 5 benang sari dan bakal buah rudimen/belum sempurna; bungan betina dengan daun mahkota yang cepat gugur, 5 benang sari dan terbenam, 1 sel bakal buah, tangkai putik 3-4. buah seperti pelok, biasanya jorong menyirip, panjang lebih dari 4.5 cm, keunguan atau hitam dab berair ketika masak, berbiji satu. biji lebar menjorong, panjang lebih dari 2.5 cm, dengan pemamahan yang dalam di permukaan.; Aralidium pinnatifidum dapat ditemukan berbunga dan berbuah sepanjang tahun. merupakan spesies tunggal dari genus yang sering termasuk ke dalam Araliaceae atau Cornaceae. However, tanaman ini memiliki beberapa ciri-ciri yang unik. Untuk alasan tersebut, telah dianjurkan untuk ditempatkan terpisah dalam Griseliniaceae karena nampaknya berhubungan dengan Griselinia. Setelah penelitian multidisiplin, disimpulkan penegakan terpisahnya dari famili Aralidiaceae paling tepat.Aralidium pinnatifidum dapat terjadi kekeliruan dengan Artocarpus spesies, yang memiliki daun yang mirip, |
Kategori : Tumbuhan obat
Sinonim :
|
 |
Bauhinia acuminata L.
Inggris :
Indonesia : panawar saribu (Sunda)
Tanaman perdu dengan tinggi lebih dari 3 m, cabang muda, gundul; Daun: bulat telur sampai sedikit membulat, lebih dari 15(-20) cm x 15(-20) cm, bifid lebih dari 1/3(-1/2), pangkal sedikit rompong/memotong, ujung dari cuping meruncing, 9-11urat, penumpu lurus/linear, panjang 1 cm, lekas luruh; perbungaan tandan lateral atau terminal, 3-10 bunga; kuncup bunga menggelondong, berambut tipis sampai gundul, panjang c. 4 cm, hipantium menggasing, kelopak spathaceous, daun mahkota lonjong, panjang 4-6 cm, cengkam pendek, putih, benang sari 10, semuanya subur; buah linear, bersekat,11 cm x 1.5 cm, gundul, biji 5-11, merekah, biji bundar, diameter lebih dari 7 mm. Bauhinia acuminata ditemukan di hutan dipterocarp kering, hutan jati dan semak, juga di batu kapur di daerah lebih rendah. |
Kategori : Tumbuhan obat
Sinonim : Bauhinia linnaei Ali (1966).
|
 |
Blumea Sp.
Inggris :
Indonesia : sembung (umum)
Herba atau perdu dengan tinggi lebih dari 4 m, batang sederhana atau bercabang, tegak atau menanjak, kadang-kadang menggeletak, Daunnya berselang-seling, sederhana, seringkali bercuping menyirip, bangun lanset lurus sampai melanset sungsang, tepi menggergaji, bergigi atau bergigi kecil (bergerigi),pangkal biasanya membulat sampai melancip, tangkai pendek atau melekat, bekas berpenumpu (exstipulate). Perbungaan membentuk kapitulum mencakram di gundung yang renggang sampai padat atau malai atau kadangkala soliter; penyangga sarang lebah, epaleate (epolet), gundul atau berambut; pembalut menggenta sampai hemisferikal, daun pembalut berlapis-lapis, sempit, berbulu balig di bagian belakang, bagian luar lebih pendek dibandingkan dengan bagian yang di dalam. Bungan dengan mahkota bunga slindris, sering kali berwarna kuning, jarang yang berwarna putih atau unngu pucat; Bungan betina dipinggir, mahkota bunga membenang, 2-4-helai, di beberapa barisan; bunga cakram biseksual mahkota bunga (4-)5-helai, (4-)5 benang sari berselang-seling dengan helaian mahkota bunga, mengekor di bagian dasar. bakal buah terbenam, tangkai putik menjulur, buah longkah lonjong, menggalah atau mengsungsang dengan 4 sudut. Perbanyakan dengan biji atau pemisahan tunas akar. |
Kategori : Tumbuhan obat
Sinonim :
|
|
|