Detil data Saccharum officinarum Linn. [Print | Back]
Spesies : Saccharum officinarum Linn.
Nama Inggris : Sugar cane
Nama Indonesia : Tebu
Deskripsi : Rumput bertahunan, besar, tinggi. Sistem perakaran besar, menjalar. Batang kokoh, dan terbagi ke dalam ruas-ruas; ruas beragam panjangnya, menggembung, menggelendong, merunjung, merunjung sungsang atau menyilindris. Daun muncul pada buku, pelepah menabung, melingkari batang; pada setiap kultivar ligulanya berbeda ada yang memita, mendelta, membulan sabit atau membusur; helaian memita, menggulung pada kondisi kelembaban kritis. Perbungaan malai di ujung, dua buliran keluar pada setiap buku dari cabang terakhir, satu duduk dan satu bergagang; buliran terdiri dari dua sekam berbentuk perahu, dikelilingi oleh rambut halus dan dua buah bunga; bunga terbawah steril dengan sekam tunggal. Buah biji kecil.
Distribusi/Penyebaran : Tebu berasal dari Nugini dan telah dikenal sejak sekitar 6000 SM. Pada sekitar tahun 1000 SM tebu tersebar secara berangsur-angsur sampai kepulauan Melayu. Diduga, tanaman ini telah disilangkan dengan tebu liar dari India dan Cina dan mencapai Hawaii antara tahun 500—1000 AD dan ke Mediterania antara tahun 600—1400 AD. Dari daerah tersebut dibawa ke kepulauan Karibia dan Amerika di abad ke 16 dan ke 17. Sekarang tebu telah diproduksi di hampir 70 negara, terutama di daerah tropis, namun sampai kondisi tertentu, jenis ini juga tumbuh di daerah subtropis. Negara di Asia Tenggara yang menghasilkan tebu adalah Thailand, Filipina, Indonesia, Malaysia dan Papua Nugini.
Habitat : Temperatur optimum untuk perkecambahan tebu adalah 26—33°C dan 30—33°C untuk pertumbuhan vegetatif. Selama pertumbuhan menjadi dewasa, temperatur malam yang relatif rendah ( di bawah 18°C) berguna untuk pembentukan kandungan sukrosa yang tinggi. Tebu tumbuh dengan subur di bawah cahaya matahari yang penuh di mana daun-daunnya terpenuhi pada sekitar 10 750 lux dan titik balik kira-kira 430 lux. Secara kuantitatif tebu merupakan tanaman berhari pendek; periode siang hari 12—14 jam adalah jumlah maksimum untuk pertumbuhan dan perbungaan. Rata-rata curah hujan yang diperlukan sekitar 1800—2500 mm/tahun. Jika curah hujan tidak cukup, harus diberi aliran irigasi. Pertumbuhan vegetatif harus didukung oleh hujan yang tinggi dan merata; selama pematangan, tebu memerlukan suatu musim kering untuk mengurangi proses pertumbuhan dan akan menyebabkan akumulasi gula. Kelembaban udara kurang penting untuk perkembangan tebu. Di dataran tinggi pertumbuhan tebu agak terganggu karena temperatur yang rendah, terutama saat malam akan memperlambat pertumbuhan dan perkembangannya walaupun tumbuhan tersebut akan meningkatkan kandungan gulanya. Di Asia Tenggara, batas maksimum ketinggian untuk pertumbuhan normal adalah 600—700 m di atas permukaan laut. Pada Ketinggian yang lebih tinggi siklus pertumbuhan akan lebih panjang dari 14—18 bulan.; Tebu dapat tumbuh dengan baik pada beragam jenis tanah, tetapi dalam kondisi tanah gembur dan berdrainasi baik dengan pH 5—8, kandungan nutrisi dan senyawa organik banyak dan kemampuan menahan kapasitas air baik. Beberapa kultivar tebu dapat tumbuh pada tanah yang berkadar garam relatif tinggi dan tergenang dalam waktu yang lama, terutama dalam air mengalir. Sebagai tanaman vegetatif, tebu memerlukan sejumlah besar nitrogen, kalium, kalsium dan silika. Unsur-unsur dasar tersebut berperanan penting dalam perkembangan tebu. Ketidaktersediaan senyawa-senyawa ini dapat menyebabkan pertumbuhan tidak sempurna.
Perbanyakan : Jenis ini dapat diperbanyak secara vegetatif dengan potongan-potongan batang dewasa. Masing-masing potongan pada umumnya mempunyai 2—3 tunas. Potongan ditanam secara horisontal dan ditutup dengan suatu lapisan tipis tanah. Ada tiga macam dari benih pertumbuhan, yaitu potongan pucuk, potongan batang dan ` rayungan`. Potongan puncuk adalah benih yang diambil dari bagian atas tangkai tebu yang baru dipanen. Potongan batang merupakan benih yang diambil dari tumbuhan dalam pembibitan khusus pada usia sekitar 6—8 bulan. Tangkai tebu yang utuh dapat juga ditanam; ` Rayungan` diperoleh dengan pemindahan daun-daun dan ujung pucuk dari benih di lahan, kemudian tunas baru dibiarkan tumbuh. Ketika tunas baru sudah mencapai panjang tertentu, tebu dipotong-potong kemudian ditanam. Benih sejati (bulir) tebu hanya digunakan untuk menghasilkan kultivar baru. Pengairan pada umumnya diterapkan sebelum atau segera setelah penanaman. Lahan pembibitan 1 ha diperlukan untuk menanam 8—10 ha tebu. Tebu biasanya ditanam dalam skala kebun, namun apabila daerah tersebut memiliki tanah yang gembur dan pengairan yang cukup. Tebu dapat ditumpangsari dengan jagung, kacang tanah, atau kedelai. Waktu penanaman yang baik diawal musim kering untuk lahan beririgasi dan pada permulaan musim hujan untuk lahan tak beririgasi.
Manfaat tumbuhan : Tebu ditanam untuk diambil batangnya. Produk utama dari tebu adalah sukrosa yang terkandung sekitar 10% dari tanaman tersebut. Sukrosa merupakan bahan pemanis dan bernilai tinggi, juga dapat digunakan sebagai bahan pengawet untuk makanan lain. Tebu merupakan bahan dasar untuk berbagai produk makanan dan hidangan. Serat sisa dan ampas tebu, kebanyakan digunakan sebagai bahan bakar untuk menghasilkan energi yang diperlukan untuk pembuatan gula. Selain itu, dapat juga digunakan sebagai bahan baku untuk serat dan partikel untuk papan, plastik, kertas dan furfural. Untuk keperluan tersebut, serat dipisahkan dari empulurnya, dan empulurnya sisanya dapat digunakan sebagai makanan ternak. Kerak sisa saringan, terdiri dari sari yang tidak murni dan zat kapur (CaO). Tetes tebu (molases) merupakan sisa hasil pemisahan dari kristal gula, digunakan sebagai makanan; bila diubah jadi suatu unsur yang berprotein, tetes tebu dapat digunakan sebagai pupuk atau untuk pembuatan ragi , CO2 dan berbagai asam seperti asam amino esensial misalnya L(-)Lysine untuk makanan ternak, tetapi kebanyakan diproses ke dalam industri alkohol dan dapat diminum. Penelitian terakhir diarahkan untuk produksi langsung ethylene tanpa membutuhkan penyulingan dan kristalisasi, sebagai upaya untuk mencari sumber energi alternatif.
Sumber Prosea : 9: Plants yielding non-seed carbohydrates p.143-148 (author(s): Kuntohartono, T; Thijsse, JP)
Kategori : Pemanis alami
© 2010 Programming and Design by Wardiyono (YHA)